Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang
aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru
menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang
mantan aktifis feminisme ini
Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang
atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau
kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai
melanggar disiplin. Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang
menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran.
Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya
pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di
sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.
Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang
memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera
menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan
pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran
Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja
untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang
ditelan kolonialisme Barat.
Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan
sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai
perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa
Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami
berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa
Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang
tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada
kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap
segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.
Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di
Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan
para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab
adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan
pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan
Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu
atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari
kepala mereka.
Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan
dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan
perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular
dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi
menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.
Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak
perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang
kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban
berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi
yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan
(masculine-oriented).
Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya
non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena
bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki
signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena
jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok
non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi
sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses
ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari
kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.
Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya
kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya
diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya
masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya
memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang
sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan
modis.
Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang
menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan
sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model
yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda
bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel
tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang
“orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna
jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).
Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya
tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau
tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya
terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada
keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat
saya untuk bepaling ke Islam. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid
di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam,
termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah
terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke
pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang
tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim,
Alhamdulillah.
Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya
mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya
tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah
itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti
pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang.
Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan
adanya kerudung di kepala. Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan
terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa
seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di
Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar
laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari
pandangan liar itu.
Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi
iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi
karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame
Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah
Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya
lakukan, bahkan dengan sukarela. Pada awalnya, saya berpikir tidak ada
seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka
memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai
jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan,
“Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”
Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu
penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan
sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab
mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa
mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi
yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa
lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.
Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke
Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya
memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang
telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian
Arab dan Islam.
Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum
banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam
membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin
menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT
senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat
bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian
orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang
tertuju kepada saya!
Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala
hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi
ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal
di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman
saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita
menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia
memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari.
Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa
dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.
Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya
memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak
budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan
kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).
Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah
berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim.
Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya
sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya
setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab
bagi Muslimah.
Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam
ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna
bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya,
sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian,
mereka tetaplah minoritas di Kairo.
Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya
Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan
memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan
kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang
memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut
menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi
salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak
dikenalnya.
Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari
keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai
kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari
keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang
memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak
aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya
pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih
santai.
Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara
malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya
yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan
sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka
(meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang
dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris
tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).
Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan
suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami.
Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada
tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan
orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster
Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai
Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan
terorisme dan tekanan. Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab
dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya
sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius
seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan
Islam!
Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap
memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada
setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam :
sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita
boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya
memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di
Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan
emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada
mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.
Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa
dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap
memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar
dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang
tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai
khimar warna hitam. Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik
dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang
relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada
temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara
Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!
Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah
saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai
banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam
mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya
terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat
tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan
bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.
Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant
dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang
bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti
di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di
Jepang pun hal yang sama saya lakukan.
Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan
bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya
melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka
dan kami bersalaman satu sama lain.
Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan
menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal
cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru
melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak
nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga
tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke
pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan
pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.
Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika
pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya
tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena
itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di
ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.
Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat
berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di
Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang
yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin
sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju
renang topless, ia dianggap tidak punya malu.
Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah
dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum
nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan.
Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak
jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal
keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan
liberal mau memberikan jawaban yang jujur? Definisi tentang bagia tubuh
perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada
fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku
sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah
semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian
tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan
di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.
Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau
hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat
umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya
malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.
Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan
sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri.
Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi
suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu,
dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di
dalam Islam.
Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive
menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi
akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar
mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal
jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang
tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi
Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali
ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang
ditawarkan sekularisme.
***
[ditulis ulang oleh Kartika dari buku "Mereka Yang Kembali", Zenan
Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]


Pengakuan Nakata Khaula