Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang
bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga
saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya
cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja
orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri
seberang.
Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal
dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu
di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya
cintai.
Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama
persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh
pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.
Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan
yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan
yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang
ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat
telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di
kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri
orang.
Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu
berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya
senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.
Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik
kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba
saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam
sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya
sampai ke Indonesia nanti?’
Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba
pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira
ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”
Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya
diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan
kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi.
Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda
jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda,
tentunya.
Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu
memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga
berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang
Pencipta?
Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini
memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat
berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau”
ini.
Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat
keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan
barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa
gembira.
Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air
tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya
yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat
terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa
saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan.
Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju
kampung abadi, kampung akhirat.


Kalimat Terindah