Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang meninggal? Kami kira, seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang meninggal satu anak saja?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan. Artinya bilangan 2 itu tidak menjadi batas.
Dalam kontek yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasulullan berkata (jika diterjemahkan secara bebas demikian) “Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu sorga dan berjalan menjemputmu?”.
Dalam hadist lain lagi (riwayat Muslim), diceritakan ada seorang -Abu Hissan namanya- yang dua anak laki-lakinya meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia (Abu Hissan) menganggap Abu Hurairah itu sebagai juru bicaranya Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Harairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal. Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini), “(Oh) iya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecilnya sorga.”
Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.” Masih ada beberapa hadist lainnya yang isinya tak jauh beda. Singkatnya, tepat seperti anggapan banyak orang, anak kecil yang meninggal itu ibaratnya celengan bagi kedua orang tuanya. Di sini perlu ada yang ditegaskan: namanya celengan, tentu ia bukanlah segala-galanya. Apa untungnya kita punya celengan, jika ternyata kita mempunyai hutang yang lebih besar dari celengan tersebut? Jelasnya, amal perbuatan orang tua -setelah anaknya meninggal- tetap akan ditimbang dan dihisab kelak. Jika kejelekannya lebih berat, walau sudah ditutupi dengan adanya celengan tsb, maka tetap akan masuk neraka lebih dulu. Jika sebaliknya, kebaikannya -dengan dukungan celengan yang telah dimilikinya- akan semakin cepat proses masuk sorga.
Ketabahan dan kesabaran itu sudah seharusnya sikap yang diambil seseorang yang terkena musibah. Termasuk musibah spt ini. Maka, tentunya hadis ini tak berlaku bagi orang tua yang sengaja menghabisi anak bayinya, karena hal itu bukan musibah. Dengan tabah dan sabar, kita akan menjaga stabilitas mental-spiritual hingga mampu kembali aktif dengan segala kegiatan seperti biasanya.
Wallaahua’lam.
***
Oleh Sahabat: Wafi Maimoen dan Arif Hidayat


Anak-anak Kecil Penghuni Surga